Selasa, 12 Agustus 2014

Pengertian kamera Analog dan Digital

Kamera analog itu:
Kamera masih menggunakan film (klise).

Prinsip kerja kamera analog:
Ibaratkan saja, kertas pembungkus roti itu sebagai film, apabila ujung spidol ditempelkan ke kertas tersebut, maka lama-kelamaan tinta pada spidol akan melebar.
Besaran ujung spidol sama dengan diafragma (besaran lensa).
Lamanya kita menempelkan spidol sama dengan speed / shutter speed.

Hasil foto dengan kamera analog:
Pori-pori pada gambar di foto lebih padat, kalau diperbesar tidak pecah, pencahayaan terlihat lebih jelas.

Kamera digital (fotografi digital) itu:
Menggunakan memory.
Data yang disimpan/ditangkap berupa angka, contoh: 00, 01, 02, 11, 12, dst.

Tipe Kamera Digital antara lain:
- Compact Camera
- DSLR Camera (DSLR 135 & DSLR Medium Format)
- View Camera

sejarah perkembangan fotografi di Indonesia


Berawal dari kedatangan seorang pegawai kesehatan Belanda pada tahun 1841 , atas perintah Kementerian Kolonial, mendarat di Batavia dengan membawa dauguerreotype. Juriaan Munich, nama ambtenaar itu, diberi tugas “to collect photographic representations of principal views and also of plants and other natural objects” (Groeneveld: 1989). Tugas ini berakhir dengan kegagalan teknis. Di Holand Tropika, untuk menyebut wilayah mereka di daerah tropis, Munich kelabakan mengendalikan sensitivitas cahaya plat yang dibawanya, dihajar oleh kelembapan udara yang mencapai 90 persen dan terik matahari yang tegak lurus dengan bumi. Foto terbaik yang dihasilkannya membutuhkan waktu exposure 26 menit.

Terlepas dari kegagalan percobaan pertama di atas, bersama mobil dan jalanan beraspal, kereta api dan radio, kamera menjadi bagian dari teknologi modern yang dipakai Pemerintah Belanda menjalankan kebijakan barunya. Penguasaan dan kontrol terhadap tanah jajahan tidak lagi dilakukan dengan membangun benteng pertahanan, penempatan pasukan dan meriam, tetapi dengan membangun dan menguasai teknologi transportasi dan komunikasi modern. Dalam kerangka ini, fotografi menjalankan fungsinya lewat pekerja administrative colonial, pegawai pengadilan, opsir militer dan misionaris.

Latar inilah yang menjelaskan, mengapa selama 100 tahun keberadaan fotografi di Indonesia (1841-1941) penguasaan alat ini secara eksklusif berada di tangan orang Eropa, sedikit orang China dan Jepang. Survei fotografer dan studio foto komersial di Hindia Belanda 1850-1940 menunjukkan dari 540 studio foto di 75 kota besar dan kecil, terdapat 315 nama Eropa, 186 China, 45 Jepang dan hanya 4 nama “lokal”: Cephas di Yogyakarta, A Mohamad di Batavia, Sarto di Semarang, dan Najoan di Ambon.

Sedangkan bagi penduduk lokal, keterlibatan mereka dengan teknologi ini adalah sebagai obyek terpotret, sebagai bagian dari properti kolonial. Mereka berdiri di kejauhan, disertai ketakjuban juga ketakutan, melihat tanah mereka ditransfer dalam bidang dua dimensi yang mudah dibawa dan dijajakan. Kontak langsung mereka dengan produksi fotografi adalah sebagai tukang angkut peti peralatan fotografi. Pemisahan ini berdampak panjang pada wacana fotografi di Indonesia di kemudian hari, di mana kamera dilihat sebagai perekam pasif, sebagai teknologi yang melayani kebutuhan praktis.

Dibutuhkan hampir seratus tahun bagi kamera untuk benar-benar sampai ke tangan orang Indonesia. Masuknya Jepang tahun 1942 menciptakan kesempatan transfer teknologi ini. Masuknya Jepang pada 1942 menciptakan kesempatan transfer teknologi ini. Karena kebutuhan propagandanya, Jepang mulai melatih orang Indonesia menjadi fotografer untuk bekerja di kantor berita mereka, Domei. Mereka inilah, Mendur dan Umbas bersaudara, yang membentuk imaji baru Indonesia, mengubah pose simpuh di kaki kulit putih, menjadi manusia merdeka yang sederajat. Foto-foto mereka adalah visual-visual khas revolusi, penuh dengan kemeriahan dan optimisme, beserta keserataan antara pemimpin dan rakyat biasa. Inilah momentum ketika fotografi benar-benar “sampai” ke Indonesia, ketika kamera berpindah tangan dan orang Indonesia mulai merepresentasikan dirinya sendiri.

Kamera Analog


Kamera Analog
Kamera Analog atau juga disebut kamera film adalah kamera yang menggunakan media perekam film. Sebenarnya, istilah analog digunakan untuk peralatan yang pengaturannya dengan manual (bukan automatis). Jenis Kamera film ada yang automatis (pengaturan rana atau diafragma diatur dengan sistem automatis dan manual.
Pengguna kamera sering salah presepsi bahwa kamera automatis adalah kamera digital, memang ada kamera automatis yang menggunakan teknologi digital (LCD) pada layar pengaturan rana dan diafragma. Akan tetapi, hal ini sebenarnya merupakan kamera film automatis dan masuk kategori kamera analog karena menggunakan media perekam film.
Keunggulan kamera analog antara lain:
1. tidak bergantung dengan listrik atau baterai
2.  master foto atau film berwujud fisik sehingga tidak ada resiko rusak seperti pada media digital
3.  harga kamera lebih murah dibandingkan kamera digital
4.  hampir semua kamera film luas media perekam adalah standar (full frame) sesuai jenis ukuran kamera dan filmnya.
Kelemahan kamera analog antara lain :
1.  tidak bisa mengetahui hasilnya sebelum melalui proses cetak film
2.  tidak bisa menggunakan ISO yang berbeda pada tiap frame, yang bisa dilakukan yaitu menyiapkan banyak film dengan  ISO yang berbeda-beda
3.  pengaturan white balance tidak ada.

Senin, 11 Agustus 2014

SEJARAH KAMERA

Kamera merupakan alat terpopuler pada kegiatan fotografi. Dalam sejarah kamera nama tersebut diperoleh dari camera obscura, kata Latin yang berarti “kamar gelap”, proses awal dalam memproyeksikan gambar dimana sebuah ruangan bekerja layaknya metode kamera fotografi modern, kecuali tiada cara di saat itu guna merekam gambarnya, namun hanya dengan manual mengikuti jejaknya. Pada fotografi, kamera adalah sebuah perlengkapan untuk menciptakan dan merekam sebuah bayangan potret di lembaran film. Sedangkan di kamera TV, mekanisme lensa menciptakan gambar di suatu lempeng yang sensitif terhadap cahaya. Lempeng tersebut kemudian menyemburkan elektron menuju lempeng sasaran jika terpapar cahaya. Kemudian, pancaran elektron tersebut diolah secara elektronik. Diketahui ada banyak macam kamera fotografi.
Menurut sejarahnya kamera berasal dari suatu alat sejenis yang terkenal sebagai Kamera Obscura yaitu kotak kamera namun belum terpasang lembaran film guna menangkap gambar. Di abad 16 Masehi, Girolamo Cardano menyempurnakan kamera obscura menggunakan lensa di sisi depan kamera obscura itu. Kendati begitu, bayangan yang diperoleh agaknya tak dapat bertahan lama, dengan begitu inovasi Girolamo tidak dinilai sebagai kemajuan dalam dunia fotografi. Di thn. 1727 Johann Scultze melakukan percobaan dan mendapati bahwa garam perak begitu sensitif pada cahaya akan tetapi ia belum mendapatkan cara bagaimana merealisasikan idenya itu.
Di thn. 1826, Joseph Nicepore Niepce menerbitkan gambar dari bayangan yang dibuat oleh kameranya, yaitu berujud gambar kabur atap rumah dalam suatu lempeng yang terbuat dari campuran timah yang dibuat pekat yang selanjutnya terkenal menjadi foto pertama. Berikutnya, di thn. 1839, Louis Jacques Mande Daguerre memperkenalkan penemuannya berujud gambar yang tercipta dari bayangan satu jalan di Paris di suatu pelat tembaga dengan lapisan perak. Daguerre yang melakukan kerjasama di thn. 1829 bersama Niepce melanjutkan rencana pengembangan kamera, kendati Niepce sendiri meninggal tiga tahun kemudian.Keduanya menciptakan kamera yang populer dengan kamera daguerreotype yang dinilai praktis pada dunia fotografi. Untuk hadiah dari inovasinya itu, otoritas Perancis menyediakan hadiah uang pensiun seumur hidup pada Daguerre maupun keluarga Niepce. Kamera daguerreotype selanjutnya jadi kamera yang praktis dan canggih seperti yang kita temui sekarang ini.

Sejarah Penemuan Kamera

cara manusia untuk mengabadikan apa yang dilihat oleh mata telah dimulai sejak 336 SM. Saat itu Aristoteles memperkenalkan teknologi ‘lubang jarum’. Aristoteles mengatakan bahwa cahaya yang melewati lubang kecil akan membentuk kesan atau gambar atau image. Abad ke-11 ditemukan kamera obscura yang ditemukan oleh seorang Alhazen. Kamera ini berbentuk ruangan khusus yang di dalamnya dipantulkan cahaya yang terdiri dari dua lensa konveks.

Seorang matematikawan asal Italia, Gerolomo Cardano, antara tahun 1501-1576 memperkenalkan teknologi orbem e vitro, yang disebut sebagai nenek moyang lensa kamera. Lensa mempunyai peran penting pada sebuah kamera. Tanpa lensa, kamera tidak akan bisa mengambil gambar. Tugas lensa adalah mengambil cahaya dari subyek agar masuk ke dalam fokus sehingga bisa menghasilkan gambar yang bagus. Pada tahun 1852, Frederick Scott Archer membuat temuan mencetak foto cepat. Hanya dalam waktu 3 detik saja! Teknik yang dinamakan collodion ini mencetak gambar pada saat plat film masih dalam keadaan basah. Tahun 1888 kamera Kodak portable box diperkenalkan oleh Eastman ke publik. 

Alat ini lebih ringkas dan sederhana daripada alat-alat fotografi sebelumnya. Alat ini sudah bisa digunakan oleh setiap orang karena mudah digunakan. Tahun 1924, Leitz memperkenalkan Kamera Leica yang kecil dan sederhana dalam penggunaannya. Kamera ini dijadikan standar para jurnalis di masa itu. Tahun 1947, Edwin Land menemukan kamera Polaroid yang memungkinkan mencetak gambar secara langsung tanpa memiliki negatif film, karena film instant digunakan langsung di dalam kamera tersebut. Kamera video yang bukan hanya bisa merekam gambar bergerak, tapi juga suaranya berhasil diciptakan oleh Philips dan Sony pada tahun 1979. 

Mereka juga memperkenalkan kaset video sebagai media perekamnya. Kemudian pada tahun 1986, Kodak berhasil menemukan teknologi fotografi tanpa film, yakni melalui sebuah sensor pada kamera yang bisa merekam 1,4 juta elemen gambar. Kemampuan merekam gambar inilah yang kemudian disebut sebagai megapixels. Selanjutanya pada tahun 1990, Kodak memperkenalkan kamera digital pertama di dunia.